Allah Mengabulkan Doa Orang Yang Berpuasa

Editor: Egi Setiawan

Assalamu'alaikum Wr. Wb
    Do'a adalah suatu bentuk permintaan dan bentuk pengampunan seorang hamba kepada tuhannya,do'a ini sangatlah penting karena manusia hanyalah seorang hamba yang lemah yang sangat membutuhkan tuhan maka dari itu manusia harus berdo'a.
     Mengenai do'a kami akan membahas tentang "allah mengabulkan do'a orang yang berpuasa", Baik langsung saja !!!
Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 186)

Asbabun Nuzul dan tafsir

Sebuah riwayat mengatakan, ayat ini turun untuk merespon pertanyaan dari sekelompok orang yang bertanya tentang waktu yang lebih tepat untuk berdo’a. Pertanyaan ini muncul ketika turun ayat ke-60 dari suroh Al-Mu’min.

Ayat ini menyebutkan bahwa Allah Ta’ala dekat dengan hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat kepada-Nya ketika mereka berdo’a, menganjurkan kepada mereka untuk berdo’a, serta berjanji mengabulkan do’a-do’a yang mereka panjatkan.

Ayat di atas sesuai dengan sebuah hadits Qudsi berikut:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Aku menurut prasangka hamba-Ku mengenai diri-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika dia berdoa kepada-Ku.” (HR. Ahmad)

Berkenaan dengan ayat ini Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Ta’ala tidak akan mengecewakan do’a orang yang memanjatkan do’a kepada-Nya dan tidak sesuatu pun yang menyibukkan Dia, bahkan Dia Maha Mendengar do’a. Di dalam pengertian ini terkandung anjuran untuk berdo’a, dan bahwa Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan do’a yang dipanjatkan kepada-Nya.

Ayat di atas senada dengan ayat ke-60 dari suroh Ghofir/Al-Mu’min. Ketika menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ini merupakan sebagian dari karunia dan kemurahan Allah Ta’ala. Dia Ta’ala menganjurkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdo’a kepada-Nya dan Dia Ta’ala menjamin akan mengabulkan do’a mereka.

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berikut ini menegaskan hal tersebut.

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَسْتَحْيِي أَنْ يَبْسُطَ الْعَبْدُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ يَسْأَلُهُ فِيهِمَا خَيْرًا فَيَرُدُّهُمَا خَائِبَتَيْنِ.

Sesungguhnya Allah Swt benar-benar malu bila ada seorang hamba mengangkat kedua tangannya memohon suatu kebaikan kepada-Nya, lalu Allah menolak permohonannya dengan kedua tangan yang hampa. (HR. Ahmad)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثِ خِصَالٍ: إِمَّا أَنْ يعجِّل لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدّخرها لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ. قَالَ: “اللَّهُ أَكْثَرُ“

“Tiada seorang muslim pun yang memanjatkan suatu do’a kepada Allah yang di dalamnya tidak mengandung permintaan yang berdosa dan tidak pula memutuskan silaturahmi, melainkan Allah memberinya salah satu dari tiga perkara berikut, yaitu: permohonannya itu segera dikabulkan, permohonannya itu disimpan oleh Allah untuknya dan kelak (akan diberikan kepadanya) di akhirat, dan adakalanya (diberikan dalam bentuk) dipalingkannya dirinya dari suatu keburukan yang senilai dengan permohonannya itu. Mereka (para sahabat) berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.” Nabi Saw. menjawab, “Allah Maha Banyak (Mengabulkan Doa).”  (HR. Ahmad).

Sekian Dan Terima Kasih
Wassalam Wr. wb...

Sumber: http://m.hidayatullah.com/